Kami berangkat jam 3 sore karena menunggu matahari reda, karena siang itu cuaca sedang terik-teriknya. Berdasarkan informasi dari pemandu, Laguna dapat ditempuh setelah 30 menit berjalan kaki.
Meskipun demikian, kami disambut dengan tulisan ini sebelum mulai menempuh perjalanan ke sana:
Medan pertama yang harus kami lewati adalah jalanan yang terbuat dari tanah dan cukup terjal. Medan standar kalau mau ke curug gitu lah ya. Nggak terlalu jauh sebenarnya, tapi terasa melelahkan karena cukup curam. Lumayan lah buat orang yang nggak pernah olah raga dan/atau asma kayak saya dan orang tua saya. Meskipun demikian, menurut saya medan ini tidak cukup sulit untuk dilalui.
Selesai naik dan turun selama kurang lebih 20 menit (karena banyak istirahatnya), kami disambut oleh pantai berkarang. Sepintas mirip dengan Pantai Klayar, namun lebih kecil dan tidak secantik Klayar. Tapi tetap cantik kok.
Perjalanan belum selesai. Kata Mas Novri yang memandu kami, perjalanan masih sebentar lagi. "Tinggal ngelewatin batu", katanya.
Ternyata, bebatuan yang harus dilewati sebagai medan kedua justru jadi tantangan yang paling berat untuk saya. Bebatuannya juga sangat terjal, sehingga kita harus berpegangan pada batu di atasnya ketika melewati beberapa titik. Medan kedua ini ternyata licin untuk dilewati dengan sandal jepit. Selain itu, entah kenapa kaki saya gemetaran, padahal nggak secapek di medan sebelumnya. Bisa jadi karena pijakannya batu (jadi hanya sebagian kaki yang bisa menapak), karena saya takut ketinggian, atau karena saya memang sudah terlalu lelah. Di sini saya sering berhenti untuk melemaskan kaki. Saya nggak merasa capek, tapi kaki saya terus gemetaran. Karena keliatan panik, adik saya akhirnya meminjamkan sandal gunungnya buat saya, sedangkan adik saya yang satu lagi akhirnya membantu membawakan tas saya. The perks of having two brothers!
![]() |
| The rock trail |
Long story short, sampai juga di Laguna. Mungkin jarak tempuh ke sana bagi kebanyakan orang memang hanya sekitar 30 menit, tapi kami akhirnya baru sampai setelah 50 menit berjalan kaki (termasuk untuk berhenti dan berfoto-foto di pantai tadi).
| The lagoon. Is it worth the effort? |
Akhirnya sampai juga, berkat ayah saya dan dua adik cowok yang bergantian bantuin kakaknya yang nyusahin. Laguna di Kiluan cukup cantik, tapi buat saya nggak sebanding dengan usaha untuk ke sananya. Ini subyektif banget sih, mungkin akan sangat berkesan perjalanannya untuk orang-orang yang suka tantangan. Saya sih agak kecewa karena nggak sebagus yang ada di bayangan saya, dan karena perjalannya luar biasa menantang buat saya. Tapi nggak papa, seneng ngeliat adik-adik saya begitu antusias berenang dan main air. Sebagai info, laguna ini dalamnya sekitar 1 meter di pinggir dan 2 meter di tengah/ujung. Akan lebih dalam kalau ada air yang masuk. Kebetulan saat itu mulai sore, sehingga airnya mulai pasang.
Sepanjang bermain air, saya sibuk membayangkan gimana caranya pulang. Untungnya, ternyata sandal gunung ngaruh banget dan bikin kaki saya lebih mantap memijak batu-batunya, meskipun di beberapa titik tetep gemetaran.
Prepare & Expect
- Fisik yang kuat. Dan mental yang kuat juga, karena medannya berat. I don't recommend this place for elderly people, or people who won't be strong enough to hike for about 45 minutes.
- Bawa air minum yang cukup. Bawa sesuatu yang manis untuk jaga-jaga (apalagi kalau ada yang fisiknya nggak kuat), karena tadi ibu saya lemas karena gula darahnya drop. Maklum, ada riwayat diabetes plus jarang olahraga.
- Pakaian siap basah. Tadi ada beberapa orang yang nggak mau nyebur ke Laguna karena nggak mau bajunya basah. Aduh sayang banget perjuangannya kalau nggak ngerasain sama sekali.
- Untuk yang nggak bisa berenang, bawa pelampung juga boleh, karena kolamnya cukup dalam, apalagi jika air laut sedang pasang. Kalau nggak pakai pelampung juga aman, asal tetap di pinggir dan pegangan di batu jika ombak sedang masuk.
- Bawa goggles atau diving mask jika ingin sekalian snorkeling, karena banyak ikan-ikan kecil di kolam. Meskipun bentuknya seperti kolam renang, air di laguna adalah air laut (sehingga harus menggunakan kaca mata renang jika ingin melihat di dalam air).
- Sandal atau sepatu yang nggak licin, terutama untuk orang yang nggak biasa naik gunung. Jangan pakai sandal jepit deh, regardless of what the locals say. Mau pakai sandal gunung juga boleh. Kalau pakai sepatu hiking mungkin diketawain sama pemandunya kali ya...
- Sewa pemandu, kecuali kalau pergi bareng temen-temen yang memang fisiknya prima dan berjiwa petualang. Kalau enggak, mending pakai pemandu supaya lebih aman.
- Jasa pemandu: Rp 50.000
- Biaya masuk ke Laguna: Rp 3.000 per orang







