Saturday, August 9, 2014

Lampung 04: Laguna di Kiluan

Setelah beristirahat sesudah berpetualang mencari lumba-lumba, kami berangkat ke Laguna. Sesuai namanya, laguna adalah bagian laut yang terpisah oleh karang (atau pasir).

Kami berangkat jam 3 sore karena menunggu matahari reda, karena siang itu cuaca sedang terik-teriknya. Berdasarkan informasi dari pemandu, Laguna dapat ditempuh setelah 30 menit berjalan kaki. Meskipun demikian, kami disambut dengan tulisan ini sebelum mulai menempuh perjalanan ke sana:



Medan pertama yang harus kami lewati adalah jalanan yang terbuat dari tanah dan cukup terjal. Medan standar kalau mau ke curug gitu lah ya. Nggak terlalu jauh sebenarnya, tapi terasa melelahkan karena cukup curam. Lumayan lah buat orang yang nggak pernah olah raga dan/atau asma kayak saya dan orang tua saya. Meskipun demikian, menurut saya medan ini tidak cukup sulit untuk dilalui.




Selesai naik dan turun selama kurang lebih 20 menit (karena banyak istirahatnya), kami disambut oleh pantai berkarang. Sepintas mirip dengan Pantai Klayar, namun lebih kecil dan tidak secantik Klayar. Tapi tetap cantik kok. 



Perjalanan belum selesai. Kata Mas Novri yang memandu kami, perjalanan masih sebentar lagi. "Tinggal ngelewatin batu", katanya. Ternyata, bebatuan yang harus dilewati sebagai medan kedua justru jadi tantangan yang paling berat untuk saya. Bebatuannya juga sangat terjal, sehingga kita harus berpegangan pada batu di atasnya ketika melewati beberapa titik. Medan kedua ini ternyata licin untuk dilewati dengan sandal jepit. Selain itu, entah kenapa kaki saya gemetaran, padahal nggak secapek di medan sebelumnya. Bisa jadi karena pijakannya batu (jadi hanya sebagian kaki yang bisa menapak), karena saya takut ketinggian, atau karena saya memang sudah terlalu lelah. Di sini saya sering berhenti untuk melemaskan kaki. Saya nggak merasa capek, tapi kaki saya terus gemetaran. Karena keliatan panik, adik saya akhirnya meminjamkan sandal gunungnya buat saya, sedangkan adik saya yang satu lagi akhirnya membantu membawakan tas saya. The perks of having two brothers!

The rock trail


Long story short, sampai juga di Laguna. Mungkin jarak tempuh ke sana bagi kebanyakan orang memang hanya sekitar 30 menit, tapi kami akhirnya baru sampai setelah 50 menit berjalan kaki (termasuk untuk berhenti dan berfoto-foto di pantai tadi).

The lagoon. Is it worth the effort?



Akhirnya sampai juga, berkat ayah saya dan dua adik cowok yang bergantian bantuin kakaknya yang nyusahin. Laguna di Kiluan cukup cantik, tapi buat saya nggak sebanding dengan usaha untuk ke sananya. Ini subyektif banget sih, mungkin akan sangat berkesan perjalanannya untuk orang-orang yang suka tantangan. Saya sih agak kecewa karena nggak sebagus yang ada di bayangan saya, dan karena perjalannya luar biasa menantang buat saya. Tapi nggak papa, seneng ngeliat adik-adik saya begitu antusias berenang dan main air. Sebagai info, laguna ini dalamnya sekitar 1 meter di pinggir dan 2 meter di tengah/ujung. Akan lebih dalam kalau ada air yang masuk. Kebetulan saat itu mulai sore, sehingga airnya mulai pasang. Sepanjang bermain air, saya sibuk membayangkan gimana caranya pulang. Untungnya, ternyata sandal gunung ngaruh banget dan bikin kaki saya lebih mantap memijak batu-batunya, meskipun di beberapa titik tetep gemetaran. 


Prepare & Expect
  1. Fisik yang kuat. Dan mental yang kuat juga, karena medannya berat. I don't recommend this place for elderly people, or people who won't be strong enough to hike for about 45 minutes.
  2. Bawa air minum yang cukup. Bawa sesuatu yang manis untuk jaga-jaga (apalagi kalau ada yang fisiknya nggak kuat), karena tadi ibu saya lemas karena gula darahnya drop. Maklum, ada riwayat diabetes plus jarang olahraga.
  3. Pakaian siap basah. Tadi ada beberapa orang yang nggak mau nyebur ke Laguna karena nggak mau bajunya basah. Aduh sayang banget perjuangannya kalau nggak ngerasain sama sekali.
  4. Untuk yang nggak bisa berenang, bawa pelampung juga boleh, karena kolamnya cukup dalam, apalagi jika air laut sedang pasang. Kalau nggak pakai pelampung juga aman, asal tetap di pinggir dan pegangan di batu jika ombak sedang masuk.
  5. Bawa goggles atau diving mask jika ingin sekalian snorkeling, karena banyak ikan-ikan kecil di kolam. Meskipun bentuknya seperti kolam renang, air di laguna adalah air laut (sehingga harus menggunakan kaca mata renang jika ingin melihat di dalam air).
  6. Sandal atau sepatu yang nggak licin, terutama untuk orang yang nggak biasa naik gunung. Jangan pakai sandal jepit deh, regardless of what the locals say. Mau pakai sandal gunung juga boleh. Kalau pakai sepatu hiking mungkin diketawain sama pemandunya kali ya...
  7. Sewa pemandu, kecuali kalau pergi bareng temen-temen yang memang fisiknya prima dan berjiwa petualang. Kalau enggak, mending pakai pemandu supaya lebih aman.

Spending (sudah termasuk ke dalam paket wisata Pahawang-Kiluan):
  • Jasa pemandu: Rp 50.000
  • Biaya masuk ke Laguna: Rp 3.000 per orang

Wednesday, August 6, 2014

Lampung 03: Berburu Lumba-Lumba di Kiluan

Setelah beristirahat di penginapan di Kiluan, kami bangun di pagi hari untuk bertemu dengan lumba-lumba. Kami berangkat sekitar pukul 6:15 dengan menggunakan Jukung. Kalau mau melihat lumba-lumba di tengah samudera, satu jakung sebaiknya hanya diisi oleh tiga orang (plus satu pengemudi), sehingga kami menyewa dua Jukung. 

Sebelum naik, kami juga menggunakan life jacket agar lebih aman. Perjalanan menuju tempat lumba-lumba bermain merupakan salah satu pengalaman yang paling berkesan buat kami. Saat itu cuaca sedang mendung, anginnya kencang dan ombaknya besar; sementara kami naik kapal berukuran kecil dan hanya menggunakan pelampung sebagai pelindung. Angin yang cukup kencang dan cipratan air dari ombak juga membuat adik-adik saya masuk angin. Untuk yang takut air, perjalanan selama 45 menit itu mungkin akan jadi pengalaman yang menakutkan, karena goyangan ombaknya memang cukup terasa. Karena ombaknya sedang besar, adik saya juga agak panik karena tidak bawa tas untuk kamera SLR. Oh iya, kata pemandunnya kalau besar/atau tidaknya ombak bisa diprediksi dari kecepatan awan saat itu. Kalau pergerakan awalnya cepat, berarti angin dan ombaknya sedang cukup besar.



Langit yang mulai mendung


Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya kami bertemu dengan puluhan lumba-lumba yang muncul secara bergantian. Intinya, harus sabar dan berdoa supaya lumba-lumbanya lompat tinggi. Lumba-lumba yang ada biasanya hanya melompat dengan cepat dan rendah, tidak seperti yang biasa saya lihat di Ocean Park Hongkong dan Gelanggang Samudera Ancol. Intinya, untuk bisa mendapatkan foto yang diinginkan, kita harus bisa memprediksi gerakan lumba-lumba, atau ya harus banyak berdoa supaya bisa dapet momen yang tepat. It was all about timing!



Kalau yang diincar hanya lumba-lumba, mungkin perjalannya nggak akan jadi worth it karena memang lumba-lumbanya tidak seheboh yang dibayangkan. Tapi, so far, ini salah satu trip yang paling berkesan untuk saya. Selain karena seru memburu lumba-lumba, saya juga sangat menikmati perjalanannya. It was so quite, peaceful, and serene. Selain itu, saya juga merasa sangat dekat dengan alam. Iya lah, orang kapalnya juga cuma sebesar badan.

Setelah selesai memburu lumba-lumba, kami mampir ke Pulau Kelapa yang lokasinya hanya sekitar 10 menit dari Pulau Sumatera. Dengan pasir yang putih dan laut dengan warna yang kontras, pantai di Pulau Kelapa juga masuk ke dalam jajaran pantai terbaik yang pernah saya kunjungi. Sayangnya lokasi matahari tidak memungkinkan bagi kami untuk mendapatkan foto yang benar-benar menggambarkan keindahan warna lautnya. Just experience it yourself, and see how beautiful our nature is. Saya dan keluarga bahkan akhirnya memutuskan untuk kembali lagi ke Pulau Kelapa keesokan harinya, karena merasa belum puas bermain air di sini. Oh iya, sebelum berangkat, pemilik penginapan memberi tahu bahwa baju yang kami pakai tidak akan basah saat naik Jakung. Karenanya, kami menggunakan pakaian sekadarnya, toh nggak akan basah. Padahal, kalau mau main air di Pulau Kelapa, harus pakai pakaian yang siap basah supaya lebih puas. Kami juga ditawarkan untuk mampir ke pulau lain untuk melihat candi, tapi kami tolak karena kata pemandunya, candinya juga nggak bagus-bagus amat. Lebih baik main pasir dan foto-foto di Pulau Kelapa.



Just look at the color!

Setelah puas, kami kembali lagi ke penginapan. Ternyata kapal kami adalah salah satu kapal yang terakhir kembali, karena tadi berhenti di spot lumba-lumba paling lama. Orang tua saya sampai khawatir karena pemandu mereka cemas ada apa-apa dengan kami. Kami sampai ke penginapan pukul 10:15. Badannya luar biasa capek setelah duduk di Jakung selama kurang lebih tiga setengah jam (sampai sakit banget bokongnya), tapi hatinya luar biasa senang. It was worth the ache, the fear, and the seasickness. Such a wonderful, wonderful experience!

Prepare & Expect
  1. Bawa tolak angin buat jaga-jaga. Kalau perlu minum sebelum berangkat supaya badannya hangat.
  2. Pilih baju yg cukup tebal buat naik kapal, tapi juga yang siap basah, karena rugi banget kalau nggak main-main di Pulau Kelapa.
  3. Siapkan pouch atau plastik buat barang-barang elektronik (kamera/HP) yang akan dibawa, karena ombaknya cukup besar dan ada kemungkinan hujan. Kalau punya kamera underwater lebih aman lagi.
  4. Untuk mengatasi pergerakan lumba-lumba yang cepat dan lumayan unpredictable, lebih baik kalau kita merekam mereka dari kamera (baru nanti di-capture), unless you're a professional, of course.
  5. Isi perut dengan makanan/minuman hangat sebelum berangkat, tapi jangan sampai perutnya penuh supaya nggak mual.
  6. Ada kemungkinan mesin kapalnya mati. Kapal saya dan satu kapal di sebelah saya pun sempat begitu. Tenang aja sambil baca doa, insya Allah bisa nyala lagi mesinnya.
  7. Jangan duduk di depan kalau mabuk laut. Selain lebih terasa guncangannya, pegangan di kanan kiri kapal juga sangat pendek.
  8. Untuk jaga-jaga, kalau bisa jangan sampai jadi kapal yang terakhir pulang. Kalau udah sisa tiga-empat kapal, ajak abangnya balik aja. Setidaknya, kalau ada apa-apa, masih ada kapal lain yang bisa membantu kita. It is an ocean, so just prepare yourself for the worst.
  9. Just enjoy the trip, jangan terlalu dibawa panik. Just look around, and enjoy the peaceful, serene scenery. You'll notice how beautiful Indonesia is, and how amazing The Divine who creates it.
  10. Kalau mau melihat ikan dan karang, coba deh snorkeling dari Pulau Sumatera yang ada di seberang Pantai Kelapa. Cari kayu yang ada di tengah laut. Di bawahnya banyak ikan yang beragam bentuk dan ukurannya serta karang warna-warni yang ditanam oleh warga sekitar.

Spending (sudah termasuk ke dalam Paket Wisata Pahawang-Kiluan):
  • Sewa Jukung untuk melihat lumba-lumba, Candi, dan Pulau Kelapa: Rp 250.000 per kapal (untuk 3 orang)
Additional Spending:
  • Masuk ke Pulau Kelapa: Rp 5.000 per orang
  • Sewa jukung untuk ke Pulau Kelapa dari Desa Bandung Jaya: Rp 15.000 per orang
  • Sewa snorkel dan diving mask: Rp 25.000

Lampung 02: Perjalanan Penuh Liku dari dan ke Kiluan

Sebenarnya jam 2:30 sore kami sudah siap berangkat ke Kiluan dari Ketapang. Namun, Bu Asih dan beberapa pemandu wisata tidak menyarankan kami untuk berangkat ke sana dengan menggunakan mobil kami (grand livina yang sudah dipasangi body kit), karena menurut mereka mobil kami terlalu rendah untuk medan yang cukup berat. Sejak awal, adik saya juga khawatir kalau ban mobil kami nanti nge-spin, karena ban kami tipe rally (kasar), bukan tipe off-road. Karena rental mobil sudah tidak tersedia, kami akhirnya kembali ke Bandar Lampung untuk meminjam mobil saudara. Syukurlah ada mobil yang bisa dipinjam, meskipun kami jadi baru berangkat ke Kiluan jam 4 sore dari Pelabuhan Ketapang.

Lokasi Kiluan dari Pulau Sumatera dan Jawa

Kali ini perjalanan kami tidak dipandu Waze karena Kiluan bahkan belum ada di Waze dan sinyal internet serta GPS sudah hilang sejak meninggalkan Ketapang. Tapi tidak sulit mencarinya, lurus saja dari Ketapang dan perhatikan papan penunjuk jalan yang ada. Jam lima sore, atau sekitar dua jam perjalanan dari Bandar Lampung (setelah melewati POM Angkatan Laut), jalanan mulai jelek. Jalanannya beraspal, namun sudah rusak. Di beberapa titik juga ada bebatuan yang cukup besar dan genangan air. Untungnya mobil kijang yang kami pinjam menggunakan ban tipe off-road dan sudah sedikit dimodifikasi, jadi guncangannya tidak terlalu heboh, meskipun tetap terasa.





Pukul 06:24 sore kami melewati Desa Bawang. Jalanannya mulai bagus. Oleh EO, kami diminta untuk mencari tugu Selamat Datang di Kiluan. Karena sibuk mencari tugu dan jalanan lurus-lurus aja, kami sempat nyasar karena ternyata ada satu persimpangan kecil yang mengharuskan kami belok ke kanan, namun petunjuk arahnya tidak terlihat jelas. Akibatnya, perjalanan kami jadi 30 menit lebih lama. Kami pun harus memutar arah di antara jurang, dengan bantuan senter sebagai penerang. Nyasar, gelap, medannya berat. It better be worth it!

Setelah berulang kali menelpon EO dan pemilik penginapan serta bertanya kepada warga sekitar, akhirnya kami sampai di Kiluan pukul 07:30 malam. Karenanya, ketika pergi, perjalanan menuju Kiluan kami tempuh dalam waktu 3 jam dari Pelabuhan Ketapang atau 4 jam dari kota Bandar Lampung (sudah dikurangi waktu nyasar). Jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh, tidak sampai 100 km, namun jalanan yang sangat buruk membuat kecepatan mobil kami seringkali tidak bisa beranjak dari 20 km/jam, apalagi adik saya juga belum terbiasa menyetir mobil pinjaman yang bertransmisi manual. Dari 4 jam yang kami tempuh dari Bandar Lampung, 2 jam-nya digunakan untuk menempuh jalanan yang buruk. Ketika perjalanan pulang, adik saya sudah lebih pede (dan ngebut) saat menyetir, sehingga kami sampai di Bandar Lampung hanya dalam waktu 3 jam 15 menit.

Kami menginap di Desa Bandung Jaya, tepatnya di penginapan (bukan homestay) milik Pak Rusdi. Penginapannya cukup nyaman meskipun sederhana. Lantainya dari semen yang dilapisi dengan tikar plastik. Dindingnya dari kayu. Kamarnya cukup besar, berisi dua kasur ukuran 1,8 x 2 meter dan empat bantal. Satu kamar cukup untuk menampung 4 hingga 10 orang, tergantung tingkat kenyamanan yang diinginkan. Kami malah hanya bertiga sekamar.








Menginap di Desa Bandung Jaya (1A) bisa jadi opsi jika kenyamanan adalah faktor utama. Airnya bersih, listriknya selalu ada 24/7, dan pemandangannya bagus karena terasa rumahnya menghadap laut, meskipun bukan pantai. Makanan yang disajikan juga enak, apalagi ikan bakar lemadangnya. Karakteristik serupa juga bisa ditemui jika menginap di dekat Teluk Haur (1B).

Peta akomodasi Kiluan


Opsi kedua adalah menginap di Pulau Kelapa (2). Hanya ada satu penginapan sederhana, atau bisa gelar tenda untuk berkemah kalau mau lebih hemat lagi. Hanya cukup bayar biaya sewa tenda, atau bawa sendiri dari rumah. Namun, jika menginap di Pulau Kelapa, tidak ada air bersih dan akses listriknya terbatas. Opsi selanjutnya adalah menginap di ujung pulau (3; masih Pulau Sumatera, namun hanya bisa ditempuh dengan kapal), karena masih ada akses air dan listrik namun juga menghadap ke pantai. 

Prepare & Expect
  1. Pastikan mobil yang digunakan cukup tinggi (bukan sedan atau semi-sedan, apalagi kalau sudah dipasang body kit) supaya nggak nyangkut. Sepanjang jalan saya sempat melihat Jazz dan March sih, silahkan aja naik mobil kecil kalau mau nekat. Tapi kalau mau cari aman, gunakanlah MPV.
  2. Karena jalanan berbatu dan cukup naik-turun, lebih bagus lagi kalau mobilnya menggunakan ban tipe off-road, bukan tipe rally, supaya bannya tetap bisa berputar meskipun melewati bebatuan (tidak nge-spin).
  3. Pastikan bensin terisi penuh, karena pom bensin terdekat hanya ada di dekat Pelabuhan Ketapang, yaitu sekitar 2-3 jam dari Kiluan. Sepanjang jalan menuju Kiluan hanya ada yang menjual bensin eceran.
  4. Karena tidak terdeteksi di Waze atau Google Maps, perhatikan penunjuk jalan dengan baik. Ternyata ada satu keluarga lagi yang juga tersesat di titik yang sama dengan kami, karena tidak memperhatikan perempatan terakhir sebelum tiba di Tugu Kiluan. Hati-hati ya, perempatan tersebut terletak di pasar di Desa Bawang, dan ada warung telkomsel dengan warna merah (dari sana belok Kanan, Kiluan hanya sekitar 5 kilometer lagi).
  5. Sebaiknya berangkat maksimal jam 2 sore dari Bandar Lampung supaya bisa sampai di Kiluan sebelum maghrib. Jalanan sangat gelap di malam hari, dan cukup seram karena di beberapa titik ada jurang di kanan/kiri jalan. Berangkat siang juga akan mengurangi kemungkinan nyasar. 
  6. Pastikan sudah memesan kamar di Kiluan sebelum kedatangan, apalagi jika sedang musim liburan. Pak Rusdi bercerita bahwa ada 7 mobil yang datang dan tidak mendapatkan penginapan di hari itu. Bayangkan, sudah menempuh 4 jam perjalanan dengan jalanan yang jelek tapi harus kembali karena tidak dapat penginapan!
  7. Tanya kondisi penginapan secara detil ketika memesan kamar melalui pemilik penginapan atau EO, supaya lebih siap.
  8. Kasur dan bantal yang tersedia di penginapan cukup keras. Kalau agak rewel soal tidur, lebih baik siapkan bantal cadangan di mobil supaya bisa tidur lebih nyenyak.
Spending (termasuk dalam paket wisata Pahawang-Kiluan)
  • Penginapan: Rp 250.000 per kamar
  • Makan: Rp 20.000 per orang sekali makan

Additional Spending
  • Kelapa muda: Rp 5.000 per buah

Contact Person

Pak Rusdi (085377504156)

Nomor telepon para pemilik penginapan di Kiluan

Monday, August 4, 2014

Lampung 01: Mencari Nemo di Pahawang dan Kelagian

Pahawang dan Kelagian merupakan nama dari dua pulau kecil yang berada dekat dengan Lampung. Kedua pulau tersebut bisa ditempuh dalam waktu 30-45 menit dari Pelabuhan Ketapang dengan menggunakan kapal. Pelabuhan Ketapang sendiri dapat ditempuh dalam waktu satu jam dari Bandar Lampung.

Karena tidak menginap di Pahawang, kami berangkat jam 7 pagi dari Bandar Lampung agar bisa main air lebih lama. Satu jam kemudian, dengan arahan dari Waze, kami sampai di Pelabuhan Ketapang. Bu Asih, salah satu pemilik kapal di Ketapang yang menjadi rekan EO kami, menyambut kedatangan kami dan meminta kami untuk langsung memilih sepatu katak yang sesuai dengan ukuran kaki masing-masing. Ternyata Bu Asih hanya punya sepatu ukuran 36-40, sehingga ayah dan kedua adik laki-laki saya harus menyewa dari tempat lain. Ukuran sepatu maksimal yang disewakan adalah 42-44.

Selain sepatu katak (fin), kami juga menyewa life jacket, snorkel, dan diving mask. Berdasarkan perjanjian dengan Mas Rifky, kami akan menyelam di tiga titik: Pahawang, Kelagian Kecil, dan Kelagian Besar. Kami pun berangkat menggunakan kapal dengan kapasitas maksimal 10 orang. Sekitar 30 menit kemudian, kami sampai di titik snorkeling pertama, di dekat Pulau Pahawang. Di titik ini, kedalaman lautnya melebihi 5 meter. Dari bawah laut, kita bisa menyaksikan keindahan karang-karang. Namun demikian, meskipun sudah menggunakan life jacket, saya dan ibu saya (yang nggak bisa berenang) memutuskan untuk menunggu di kapal karena lautnya cukup dalam. Saya sempat nyebur dan ngintip sebentar, tapi naik lagi karena merasa insecure.

Dari atas kapal


Ayah saya sempat kecewa karena karangnya tidak berwarna-warni, tidak seperti di Kepulauan Seribu. Kata Mas Yudi, pemandu sekaligus pengemudi kapal kami, karang-karang itu telah rusak akibat ulah orang-orang yang menggunakan bom laut untuk menangkap ikan. Sebel ya dengernya.



Setelah puas berenang, melihat karang, dan berfoto di bawah air, kami pun melanjutkan perjalanan ke pulau Ketapang. Sebelumnya, kami berhenti sebentar untuk berfoto di pulau Pahawang Besar. Pulaunya bagus dan sepi, tapi sudah mulai dikelilingi sampah. Sebel sih ketika menyadari bahwa orang Indonesia belum bisa menjaga keindahan alam dengan membuang sampah di tempatnya. Selain Pulau Pahawang Besar, sebenarnya ada juga Pulau Pahawang Kecil yang juga cantik, tapi sudah dibeli oleh seorang warga asing, sehingga tidak lagi bisa dikunjungi oleh wisatawan (kecuali saat pemiliknya sedang tidak ada ditempat). Sayang banget dilepas, padahal potensi wisatanya juga besar.

Berbeda dengan di Pahawang, tempat snorkeling di pulau Kelagian Besar lebih dangkal, mungkin sekitar 2 meter dalamnya. Saya masih agak takut-takut, tapi memberanikan diri untuk ke tengah sebentar. Di sana lebih banyak ikan dan rumput laut. Akhirnya kami pun bisa melihat Si Nemo (clown fish) yang ditunggu-tunggu. Meskipun Pahawang lebih terkenal, saya lebih suka Kelagian karena ikannya lebih banyak dan tempatnya lebih dangkal. Selain untuk snorkeling, pulau Kelagian juga sangat menyenangkan untuk bermain air. Pasirnya putih, lautnya biru toska, permukaan laut yang dangkal lebih luas, dan hebatnya, nggak ada ombak sama sekali. Pas banget buat foto-foto!

Nemo said hello!
Pantai tanpa ombak di Kelagian
Kami lalu makan siang di pantai Pulau Kelagian Kecil. Pengalaman baru sih makan di ujung pantai. Makan siangnya sudah disiapkan oleh Bu Asih dan dibawa di kapal sejak awal. Kami dibawakan nasi kotak dengan ikan kembung goreng, sambal (seperti sambal dabu-dabu), dan tumis kacang panjang. Saya biasanya nggak suka ikan, tapi kali ini lahap banget makannya karena lapar, ikannya segar, dan sambalnya juara.

Setelah makan, kami mengumpulkan sampah kotak makan di kardus untuk dibuang di tempat sampah ketika kembali ke Ketapang. Kami sibuk mengomentari sampah-sampah di Pulau Ketapang yang juga lumayan banyak. Duh, turis Indonesia. Masak buang plastik bekas minyak goreng aja di pantai! Ternyata, sampai di Ketapang, Mas Yudi diam-diam membuang kardus berisi sampah kami begitu saja ke laut. Yah, kecewa banget rasanya. Perlu ada yang mengedukasi soal sampah nih kayaknya.

Setelah kembali ke Pelabuhan Ketapang, kami mandi, lalu shalat dan minum es kelapa di rumah Bu Asih. Semuanya capek, tapi senang dan puas. Sambil duduk dan minum es kelapa, kami beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke Teluk Kiluan.

--

Prepare & Expect
  1. Kalau ada yang ukuran sepatunya di atas 41, lebih baik informasikan ke pemandu atau EO terlebih dahulu sebelum kedatangan supaya nggak buang-buang waktu ketika hari-H.
  2. Bawa tolak angin untuk jaga-jaga karena potensi buat masuk anginnya gede banget: main air, masuk kapal, kena angin, dan begitu terus siklusnya sampai pulang.
  3. Bawa kamera yang bisa dipakai di bawah air (atau beli waterproof case untuk kamera) karena sayang banget kalau pemandangan lautnya nggak diabadikan.
  4. Karena setiap orang hanya mendapatkan satu gelas air dan satu nasi kotak, ada baiknya membawa air minum dan makanan ringan tambahan.
  5. Hati-hati terkena karang jika ingin menyelam (tanpa pelampung). Salah satu adik saya terkena karang, tangannya perih dan kemudian muncul bercak merah (yang tidak hilang sampai beberapa hari). Karena rasanya seperti disetrum, kami sempat khawatir ia terkena ubur-ubur atau makhluk laut lain yang beracun, tapi Mas Yudi bilang itu reaksi normal kalau baru pertama kali terkena karang.


Spending (sudah termasuk dalam paket wisata Pahawang-Kiluan):
  • Sewa peralatan snorkeling lengkap: Rp 50.000 per orang
  • Sewa kapal (kapasitas sampai 10-15 orang): Rp 500.000 per kapal untuk satu hari
  • Makan siang: Rp 17.000 per orang


Additional Spending
  • Biaya mandi: Rp 3.000 per orang
  • Kelapa muda: Rp 6.000 per buah

Sunday, August 3, 2014

Lampung 00: Rencana dan Persiapan

Untuk menghabiskan libur lebaran, ayah saya mengajak kami sekeluarga untuk pergi ke Pulau Pahawang dan Teluk Kiluan. Kedua pulau tersebut berlokasi di Lampung sehingga tidak terlalu jauh dari Jakarta. Berdasarkan nomor yang didapatkan dari internet, kami menghubungi beberapa EO (atau travel agent? Mari kita sebut sebagai EO aja ya) yang bisa mengakomodasi perjalanan kami. Nggak harus pakai EO sih, supaya praktis aja. Akhirnya kami memilih Mas Rifky karena paket yang ditawarkan paling cocok dan paket harga yang ditawarkan reasonable.

Itinery

Hari Pertama (30 Juli 2014)
Berangkat dari Jakarta Ke Lampung
Menginap di Bandar Lampung

Hari Kedua (31 Juli 2014)
08:00 Sampai di Pelabuhan Ketapang, pakai alat snorkeling
09:00 Snorkeling di tiga titik: Pahawang, Kelagian Kecil, dan Kelagian Besar
12:00 Makan Siang
14:00 Kembali ke Ketapang untuk mandi
15:00 Berangkat ke Kiluan
18:00 sampai di Kiluan, istirahat

Hari Ketiga (1 Agustus 2014)
06:00 Minum teh, pakai alat pelampung, dan siap-siap untuk wisata dolphin
07:00 Wisata dolphin
09:30 Wisata keliling Candi dan Pulau Kiluan/Kelapa
11:00 Kembali ke penginapan untuk ishoma
13:00 Wisata Laguna
15:00 Kembali ke penginapan untuk mandi dan istirahat
18:00 Persiapan barbeque dan makan malam

Hari Keempat (2 Agustus 2014)
08:00 Wisata Pantai Pasir Putih
12:00 Check out

--

Karena ada urusan mendadak, kami baru berangkat dari Jakarta jam 9 pagi. Meskipun sudah lewat arus mudik, ternyata kapalnya tetap penuh. Kali ini kami mendapatkan kapal dengan kualitas yang buruk. Gerah, penuh, dan lebih lambat daripada kapal yang biasa digunakan. Kami akhirnya duduk di ruangan VIP yang ber-AC meskipun AC-nya juga nggak dingin. Yang penting nggak ada bau rokok. Seperti bagian-bagian kapal lainnya, ruangan kami cukup penuh hingga kami harus duduk di lantai karena seluruh kursi sudah terisi penuh.

Dari atas kapal
Akhirnya kami sampai di Bakauheni jam 3.15 sore, dan tiba di Bandar Lampung sekitar pukul 6. Karena monster-monster di perut sudah bergejolak, kami mampir ke Bakso Sony, kedai bakso paling terkenal di Lampung. Baksonya enak dan cukup terjangkau (Rp 15.000), namun tempatnya penuh dan memang kurang nyaman untuk duduk berlama-lama.

Sesuai rencana awal, kami akan bermalam di Bandar Lampung sebelum memulai liburan keesokan harinya. Kami membutuhkan hotel yang nyaman namun terjangkau karena kami hanya akan menetap sampai jam 6 pagi. Berdasarkan referensi dari internet, kami memutuskan untuk menginap di Harion Hostel. Kamarnya luas, nyaman, bersih, baru, tapi sangat terjangkau. Recommended banget buat yang butuh tempat bermalam di Lampung.

Kamar di Harion Hotel, Bandar Lampung


--

Prepare & Expect
  1. Meskipun tidak sedang peak season, usahakan untuk naik kapal Merak-Bakauheni dini hari. Paling siang jam 5 dari Jakarta lah. Selain lebih sepi, cuaca pagi juga lebih sejuk sehingga perjalanan akan jadi lebih nyaman.
  2. Siapkan makan siang / sarapan untuk di kapal. Kami sih biasanya beli nasi padang, lalu makan di kapal dengan dialasi piring atau tempat makan yang juga sudah disiapkan.
  3. Kalau tidak punya mobil pribadi, EO biasanya menyediakan jasa penjemputan dari Jakarta. 
  4. Untuk mengantisipasi kapal yang penuh, siapkan tikar plastik kecil (atau setidaknya koran bekas) sebagai alas duduk.

Spending
  • Tiket kapal Merak-Bakauheni: 275.000 per mobil
  • Tiket ruangan VIP / AC: Rp 8.000 per orang
  • Penginapan: Rp 250.000 per kamar per hari
  • Makan siang dan makan malam
  • Paket wisata Pahawang-Kiluan: Rp 700.000 per orang (sudah all-in untuk 3 hari 2 malam).

Contact Person (Paket wisata Pahawang-Kiluan):
Rifky (085368236213)
>