Pahawang dan Kelagian merupakan nama dari dua pulau kecil yang berada dekat dengan Lampung. Kedua pulau tersebut bisa ditempuh dalam waktu 30-45 menit dari Pelabuhan Ketapang dengan menggunakan kapal. Pelabuhan Ketapang sendiri dapat ditempuh dalam waktu satu jam dari Bandar Lampung.
Karena tidak menginap di Pahawang, kami berangkat jam 7 pagi dari Bandar Lampung agar bisa main air lebih lama. Satu jam kemudian, dengan arahan dari Waze, kami sampai di Pelabuhan Ketapang. Bu Asih, salah satu pemilik kapal di Ketapang yang menjadi rekan EO kami, menyambut kedatangan kami dan meminta kami untuk langsung memilih sepatu katak yang sesuai dengan ukuran kaki masing-masing. Ternyata Bu Asih hanya punya sepatu ukuran 36-40, sehingga ayah dan kedua adik laki-laki saya harus menyewa dari tempat lain. Ukuran sepatu maksimal yang disewakan adalah 42-44.
Selain sepatu katak (fin), kami juga menyewa life jacket, snorkel, dan diving mask.
Berdasarkan perjanjian dengan Mas Rifky, kami akan menyelam di tiga titik: Pahawang, Kelagian Kecil, dan Kelagian Besar. Kami pun berangkat menggunakan kapal dengan kapasitas maksimal 10 orang.
Sekitar 30 menit kemudian, kami sampai di titik snorkeling pertama, di dekat Pulau Pahawang. Di titik ini, kedalaman lautnya melebihi 5 meter. Dari bawah laut, kita bisa menyaksikan keindahan karang-karang. Namun demikian, meskipun sudah menggunakan life jacket, saya dan ibu saya (yang nggak bisa berenang) memutuskan untuk menunggu di kapal karena lautnya cukup dalam. Saya sempat nyebur dan ngintip sebentar, tapi naik lagi karena merasa insecure.
![]() |
| Dari atas kapal |
Ayah saya sempat kecewa karena karangnya tidak berwarna-warni, tidak seperti di Kepulauan Seribu. Kata Mas Yudi, pemandu sekaligus pengemudi kapal kami, karang-karang itu telah rusak akibat ulah orang-orang yang menggunakan bom laut untuk menangkap ikan. Sebel ya dengernya.
Setelah puas berenang, melihat karang, dan berfoto di bawah air, kami pun melanjutkan perjalanan ke pulau Ketapang. Sebelumnya, kami berhenti sebentar untuk berfoto di pulau Pahawang Besar. Pulaunya bagus dan sepi, tapi sudah mulai dikelilingi sampah. Sebel sih ketika menyadari bahwa orang Indonesia belum bisa menjaga keindahan alam dengan membuang sampah di tempatnya.
Selain Pulau Pahawang Besar, sebenarnya ada juga Pulau Pahawang Kecil yang juga cantik, tapi sudah dibeli oleh seorang warga asing, sehingga tidak lagi bisa dikunjungi oleh wisatawan (kecuali saat pemiliknya sedang tidak ada ditempat). Sayang banget dilepas, padahal potensi wisatanya juga besar.
Berbeda dengan di Pahawang, tempat snorkeling di pulau Kelagian Besar lebih dangkal, mungkin sekitar 2 meter dalamnya. Saya masih agak takut-takut, tapi memberanikan diri untuk ke tengah sebentar. Di sana lebih banyak ikan dan rumput laut. Akhirnya kami pun bisa melihat Si Nemo (clown fish) yang ditunggu-tunggu. Meskipun Pahawang lebih terkenal, saya lebih suka Kelagian karena ikannya lebih banyak dan tempatnya lebih dangkal.
Selain untuk snorkeling, pulau Kelagian juga sangat menyenangkan untuk bermain air. Pasirnya putih, lautnya biru toska, permukaan laut yang dangkal lebih luas, dan hebatnya, nggak ada ombak sama sekali. Pas banget buat foto-foto!
![]() |
| Nemo said hello! |
![]() |
| Pantai tanpa ombak di Kelagian |
Kami lalu makan siang di pantai Pulau Kelagian Kecil. Pengalaman baru sih makan di ujung pantai. Makan siangnya sudah disiapkan oleh Bu Asih dan dibawa di kapal sejak awal. Kami dibawakan nasi kotak dengan ikan kembung goreng, sambal (seperti sambal dabu-dabu), dan tumis kacang panjang. Saya biasanya nggak suka ikan, tapi kali ini lahap banget makannya karena lapar, ikannya segar, dan sambalnya juara.
Setelah makan, kami mengumpulkan sampah kotak makan di kardus untuk dibuang di tempat sampah ketika kembali ke Ketapang. Kami sibuk mengomentari sampah-sampah di Pulau Ketapang yang juga lumayan banyak. Duh, turis Indonesia. Masak buang plastik bekas minyak goreng aja di pantai!
Ternyata, sampai di Ketapang, Mas Yudi diam-diam membuang kardus berisi sampah kami begitu saja ke laut. Yah, kecewa banget rasanya. Perlu ada yang mengedukasi soal sampah nih kayaknya.
Setelah kembali ke Pelabuhan Ketapang, kami mandi, lalu shalat dan minum es kelapa di rumah Bu Asih. Semuanya capek, tapi senang dan puas. Sambil duduk dan minum es kelapa, kami beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke Teluk Kiluan.
--
Prepare & Expect
- Kalau ada yang ukuran sepatunya di atas 41, lebih baik informasikan ke pemandu atau EO terlebih dahulu sebelum kedatangan supaya nggak buang-buang waktu ketika hari-H.
- Bawa tolak angin untuk jaga-jaga karena potensi buat masuk anginnya gede banget: main air, masuk kapal, kena angin, dan begitu terus siklusnya sampai pulang.
- Bawa kamera yang bisa dipakai di bawah air (atau beli waterproof case untuk kamera) karena sayang banget kalau pemandangan lautnya nggak diabadikan.
- Karena setiap orang hanya mendapatkan satu gelas air dan satu nasi kotak, ada baiknya membawa air minum dan makanan ringan tambahan.
- Hati-hati terkena karang jika ingin menyelam (tanpa pelampung). Salah satu adik saya terkena karang, tangannya perih dan kemudian muncul bercak merah (yang tidak hilang sampai beberapa hari). Karena rasanya seperti disetrum, kami sempat khawatir ia terkena ubur-ubur atau makhluk laut lain yang beracun, tapi Mas Yudi bilang itu reaksi normal kalau baru pertama kali terkena karang.
Spending (sudah termasuk dalam paket wisata Pahawang-Kiluan):
- Sewa peralatan snorkeling lengkap: Rp 50.000 per orang
- Sewa kapal (kapasitas sampai 10-15 orang): Rp 500.000 per kapal untuk satu hari
- Makan siang: Rp 17.000 per orang
Additional Spending
- Biaya mandi: Rp 3.000 per orang
- Kelapa muda: Rp 6.000 per buah




No comments:
Post a Comment