Wednesday, August 6, 2014

Lampung 03: Berburu Lumba-Lumba di Kiluan

Setelah beristirahat di penginapan di Kiluan, kami bangun di pagi hari untuk bertemu dengan lumba-lumba. Kami berangkat sekitar pukul 6:15 dengan menggunakan Jukung. Kalau mau melihat lumba-lumba di tengah samudera, satu jakung sebaiknya hanya diisi oleh tiga orang (plus satu pengemudi), sehingga kami menyewa dua Jukung. 

Sebelum naik, kami juga menggunakan life jacket agar lebih aman. Perjalanan menuju tempat lumba-lumba bermain merupakan salah satu pengalaman yang paling berkesan buat kami. Saat itu cuaca sedang mendung, anginnya kencang dan ombaknya besar; sementara kami naik kapal berukuran kecil dan hanya menggunakan pelampung sebagai pelindung. Angin yang cukup kencang dan cipratan air dari ombak juga membuat adik-adik saya masuk angin. Untuk yang takut air, perjalanan selama 45 menit itu mungkin akan jadi pengalaman yang menakutkan, karena goyangan ombaknya memang cukup terasa. Karena ombaknya sedang besar, adik saya juga agak panik karena tidak bawa tas untuk kamera SLR. Oh iya, kata pemandunnya kalau besar/atau tidaknya ombak bisa diprediksi dari kecepatan awan saat itu. Kalau pergerakan awalnya cepat, berarti angin dan ombaknya sedang cukup besar.



Langit yang mulai mendung


Setelah menempuh perjalanan panjang, akhirnya kami bertemu dengan puluhan lumba-lumba yang muncul secara bergantian. Intinya, harus sabar dan berdoa supaya lumba-lumbanya lompat tinggi. Lumba-lumba yang ada biasanya hanya melompat dengan cepat dan rendah, tidak seperti yang biasa saya lihat di Ocean Park Hongkong dan Gelanggang Samudera Ancol. Intinya, untuk bisa mendapatkan foto yang diinginkan, kita harus bisa memprediksi gerakan lumba-lumba, atau ya harus banyak berdoa supaya bisa dapet momen yang tepat. It was all about timing!



Kalau yang diincar hanya lumba-lumba, mungkin perjalannya nggak akan jadi worth it karena memang lumba-lumbanya tidak seheboh yang dibayangkan. Tapi, so far, ini salah satu trip yang paling berkesan untuk saya. Selain karena seru memburu lumba-lumba, saya juga sangat menikmati perjalanannya. It was so quite, peaceful, and serene. Selain itu, saya juga merasa sangat dekat dengan alam. Iya lah, orang kapalnya juga cuma sebesar badan.

Setelah selesai memburu lumba-lumba, kami mampir ke Pulau Kelapa yang lokasinya hanya sekitar 10 menit dari Pulau Sumatera. Dengan pasir yang putih dan laut dengan warna yang kontras, pantai di Pulau Kelapa juga masuk ke dalam jajaran pantai terbaik yang pernah saya kunjungi. Sayangnya lokasi matahari tidak memungkinkan bagi kami untuk mendapatkan foto yang benar-benar menggambarkan keindahan warna lautnya. Just experience it yourself, and see how beautiful our nature is. Saya dan keluarga bahkan akhirnya memutuskan untuk kembali lagi ke Pulau Kelapa keesokan harinya, karena merasa belum puas bermain air di sini. Oh iya, sebelum berangkat, pemilik penginapan memberi tahu bahwa baju yang kami pakai tidak akan basah saat naik Jakung. Karenanya, kami menggunakan pakaian sekadarnya, toh nggak akan basah. Padahal, kalau mau main air di Pulau Kelapa, harus pakai pakaian yang siap basah supaya lebih puas. Kami juga ditawarkan untuk mampir ke pulau lain untuk melihat candi, tapi kami tolak karena kata pemandunya, candinya juga nggak bagus-bagus amat. Lebih baik main pasir dan foto-foto di Pulau Kelapa.



Just look at the color!

Setelah puas, kami kembali lagi ke penginapan. Ternyata kapal kami adalah salah satu kapal yang terakhir kembali, karena tadi berhenti di spot lumba-lumba paling lama. Orang tua saya sampai khawatir karena pemandu mereka cemas ada apa-apa dengan kami. Kami sampai ke penginapan pukul 10:15. Badannya luar biasa capek setelah duduk di Jakung selama kurang lebih tiga setengah jam (sampai sakit banget bokongnya), tapi hatinya luar biasa senang. It was worth the ache, the fear, and the seasickness. Such a wonderful, wonderful experience!

Prepare & Expect
  1. Bawa tolak angin buat jaga-jaga. Kalau perlu minum sebelum berangkat supaya badannya hangat.
  2. Pilih baju yg cukup tebal buat naik kapal, tapi juga yang siap basah, karena rugi banget kalau nggak main-main di Pulau Kelapa.
  3. Siapkan pouch atau plastik buat barang-barang elektronik (kamera/HP) yang akan dibawa, karena ombaknya cukup besar dan ada kemungkinan hujan. Kalau punya kamera underwater lebih aman lagi.
  4. Untuk mengatasi pergerakan lumba-lumba yang cepat dan lumayan unpredictable, lebih baik kalau kita merekam mereka dari kamera (baru nanti di-capture), unless you're a professional, of course.
  5. Isi perut dengan makanan/minuman hangat sebelum berangkat, tapi jangan sampai perutnya penuh supaya nggak mual.
  6. Ada kemungkinan mesin kapalnya mati. Kapal saya dan satu kapal di sebelah saya pun sempat begitu. Tenang aja sambil baca doa, insya Allah bisa nyala lagi mesinnya.
  7. Jangan duduk di depan kalau mabuk laut. Selain lebih terasa guncangannya, pegangan di kanan kiri kapal juga sangat pendek.
  8. Untuk jaga-jaga, kalau bisa jangan sampai jadi kapal yang terakhir pulang. Kalau udah sisa tiga-empat kapal, ajak abangnya balik aja. Setidaknya, kalau ada apa-apa, masih ada kapal lain yang bisa membantu kita. It is an ocean, so just prepare yourself for the worst.
  9. Just enjoy the trip, jangan terlalu dibawa panik. Just look around, and enjoy the peaceful, serene scenery. You'll notice how beautiful Indonesia is, and how amazing The Divine who creates it.
  10. Kalau mau melihat ikan dan karang, coba deh snorkeling dari Pulau Sumatera yang ada di seberang Pantai Kelapa. Cari kayu yang ada di tengah laut. Di bawahnya banyak ikan yang beragam bentuk dan ukurannya serta karang warna-warni yang ditanam oleh warga sekitar.

Spending (sudah termasuk ke dalam Paket Wisata Pahawang-Kiluan):
  • Sewa Jukung untuk melihat lumba-lumba, Candi, dan Pulau Kelapa: Rp 250.000 per kapal (untuk 3 orang)
Additional Spending:
  • Masuk ke Pulau Kelapa: Rp 5.000 per orang
  • Sewa jukung untuk ke Pulau Kelapa dari Desa Bandung Jaya: Rp 15.000 per orang
  • Sewa snorkel dan diving mask: Rp 25.000

No comments:

Post a Comment

< >